Selasa, 24 November 2015

Resensi Novel Positif! Nada Untuk Asa


Judul: Positif! Nada untuk Asa
Penulis: Ita Sembiring
Penerbit: Komsos KAJ
Terbit: 2014
Halaman: 195 halaman

Art Novel ini bercerita tentang seorang ibu dan anak bungsunya, perempuan, terinfeksi virus HIV. Ibu bernama Nada ini memiliki tiga anak. Dan, anak satu-satunya yang perempuan itu bernama Asa. Anak perempuan itu pula yang terinfeksi virus HIV, “warisan” dari ayahnya, Bobby. Maka, di judul novel diberi judul “Positif! Nada untuk Asa”.
Penulis art novel ini, Ita Sembiring, memulainya dengan sangat indah. Istilahnya langsung tancap gas. Yaitu, mengawali novel ini dengan kisah kematian sang suami. Setelah pemakaman, barulah diketahui kalau suaminya meninggal karena terinfeksi virus HIV. Setelah itu, cerita langsung bermain di puncak. Artinya, perasaan pembaca mulai diaduk-aduk oleh penulis dalam wilayah garapan ini: sang janda yang akhirnya tau bahwa ia mendapat warisan penyakit dan puteri bungsunnya.
Dalam kisah selanjutnya penulis mengeksplorasi secara lengkap bagaimana kondisi Nada yang harus menerima kenyataan bahwa orangtuanya tak bisa menerima dia dalam keluarga karena ia mengidap virus “memalukan” itu. Tetangga-tetangga pun lain mencibir dan menjaga jarak. Ayahnya yang adalah seorang terpandang dan pandai pun menjauh. Tinggalah Nada seorang diri menanggung derita yang tiada bertara ini.
Saya akhirnya memahami bahwa cara pandang ini tepat. Karena, tujuan penulis adalah bukan soal siapa yang meninggal (dalam hal ini suami) karena virus HIV. Tapi, orientasinya adalah apa yang dialami oleh orang-orang yang masih hidup.
Pergulatan itu, kemudian sedikit mencair, ketika Asa akhirnya menemukan orang yang sanggup mencintai dia dengan menerima keadaannya. Kisah romatis dan cinta dihadirkan sedikit di bagian akhir yang berfungsi sebagai “penenang” setelah perasaan pembaca dijumpalitkan sejak awal novel. Ah, saya memang harus mengatakan bahwa Ita sebagai penulis sangat berhasil memainkan perasaan pemacanya.
Hanya saja, dan juga menjadi lebih baik bila saya tidak hanya memuja-muji, saya melihat celah lain sebagai evaluasi, meski sangat sedikit. Saya menemukan sebauah seting cerita dan komunikasi yang mengambil gaya sinetron Indonesia di bagian petermuan Asa dengan Wisnu di warung dekat kantor (halaman 121-128). Komunikasi mereka saat memesan makanan sama persis seperti seintron FTV yang biasanya ditayangkan di salah satu stasiun TV swasta.
Mengapa saya mengatakan bahwa ini kurang? Karena di bagian akhir novel, Ita mengkritik televisi yang selama ini menayangkan sinetron-sinetron yang sangat minim nilai edukatifnya. Ita menyebut bahwa di situ para produser dan sutradara hanya mengejar komersil dan tayang. Nah, ini akan menjadi kontra produktif ketika model yang dikritik ternyata tetap dipakai juga.
Lebih dari itu semua, saya harus katakan bahwa saya sungguh bersyukur karena bisa membaca novel ini. Novel ini tidak pertama-tama bercerita tentang pengaruh virus HIV tetapi bagaimana kita mengatasi stigma yang biasanya diberikan masyarakat sekitar.

Pesan Moral : Jadi pesan moral dari novel ini adalah di dalam kehidupan kita pasti mempunyai cobaan hidup,di dalam cobaan hidup ini kita tidak boleh putus asa dalam semua cobaan hidup ini kita harus berusaha untuk mencari jalan keluar agar masalah itu terselesaikan,seperti yang di gambarkan oleh Asa dia berusaha keras untuk melawan penyakit yang ada pada dirinya dengan tidak di mengeluh dalam cobaan hidupnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar