Penulis:
Ita
Sembiring
Penerbit:
Komsos
KAJ
Terbit:
2014
Halaman:
195
halaman
Art Novel
ini bercerita tentang seorang ibu dan anak bungsunya, perempuan, terinfeksi
virus HIV. Ibu bernama Nada ini memiliki tiga anak. Dan, anak satu-satunya yang
perempuan itu bernama Asa. Anak perempuan itu pula yang terinfeksi virus HIV,
“warisan” dari ayahnya, Bobby. Maka, di judul novel diberi judul “Positif! Nada
untuk Asa”.
Penulis art
novel ini, Ita Sembiring, memulainya dengan sangat indah. Istilahnya langsung
tancap gas. Yaitu, mengawali novel ini dengan kisah kematian sang suami.
Setelah pemakaman, barulah diketahui kalau suaminya meninggal karena terinfeksi
virus HIV. Setelah itu, cerita langsung bermain di puncak. Artinya, perasaan
pembaca mulai diaduk-aduk oleh penulis dalam wilayah garapan ini: sang janda
yang akhirnya tau bahwa ia mendapat warisan penyakit dan puteri bungsunnya.
Dalam kisah
selanjutnya penulis mengeksplorasi secara lengkap bagaimana kondisi Nada yang
harus menerima kenyataan bahwa orangtuanya tak bisa menerima dia dalam keluarga
karena ia mengidap virus “memalukan” itu. Tetangga-tetangga pun lain mencibir
dan menjaga jarak. Ayahnya yang adalah seorang terpandang dan pandai pun
menjauh. Tinggalah Nada seorang diri menanggung derita yang tiada bertara ini.
Saya
akhirnya memahami bahwa cara pandang ini tepat. Karena, tujuan penulis adalah
bukan soal siapa yang meninggal (dalam hal ini suami) karena virus HIV. Tapi,
orientasinya adalah apa yang dialami oleh orang-orang yang masih hidup.
Pergulatan
itu, kemudian sedikit mencair, ketika Asa akhirnya menemukan orang yang sanggup
mencintai dia dengan menerima keadaannya. Kisah romatis dan cinta dihadirkan
sedikit di bagian akhir yang berfungsi sebagai “penenang” setelah perasaan
pembaca dijumpalitkan sejak awal novel. Ah, saya memang harus mengatakan bahwa
Ita sebagai penulis sangat berhasil memainkan perasaan pemacanya.
Hanya saja,
dan juga menjadi lebih baik bila saya tidak hanya memuja-muji, saya melihat
celah lain sebagai evaluasi, meski sangat sedikit. Saya menemukan sebauah
seting cerita dan komunikasi yang mengambil gaya sinetron Indonesia di bagian
petermuan Asa dengan Wisnu di warung dekat kantor (halaman 121-128). Komunikasi
mereka saat memesan makanan sama persis seperti seintron FTV yang biasanya
ditayangkan di salah satu stasiun TV swasta.
Mengapa saya
mengatakan bahwa ini kurang? Karena di bagian akhir novel, Ita mengkritik
televisi yang selama ini menayangkan sinetron-sinetron yang sangat minim nilai
edukatifnya. Ita menyebut bahwa di situ para produser dan sutradara hanya
mengejar komersil dan tayang. Nah, ini akan menjadi kontra produktif ketika
model yang dikritik ternyata tetap dipakai juga.
Lebih dari
itu semua, saya harus katakan bahwa saya sungguh bersyukur karena bisa membaca
novel ini. Novel ini tidak pertama-tama bercerita tentang pengaruh virus HIV
tetapi bagaimana kita mengatasi stigma yang biasanya diberikan masyarakat
sekitar.
Pesan Moral : Jadi pesan moral dari novel ini adalah di dalam kehidupan kita pasti mempunyai cobaan hidup,di dalam cobaan hidup ini kita tidak boleh putus asa dalam semua cobaan hidup ini kita harus berusaha untuk mencari jalan keluar agar masalah itu terselesaikan,seperti yang di gambarkan oleh Asa dia berusaha keras untuk melawan penyakit yang ada pada dirinya dengan tidak di mengeluh dalam cobaan hidupnya
