Rabu, 13 Januari 2016

Puisi Manusia dan Penderitaan

PUISI MANUSIA DAN PENDERITAAN



ANTARA MIMPI DAN DERITA





Ketika aku belari....

Mengejar impian yang aku dambakan....
Namun aku sadar, semuanya hanya sebatas impian..
Impian yang tak akan pernah menjadi nyata...
Hanya sebatas bunga tidur, tarian surga dikala terlelap...

Ketika segala kehidupan yang tidak sesuai dengan harapan...
Rasanya aku ingin marah, marah kepada tuhan...

"Yatuhan, kenapa kau berikan hambamu ini penderitaan yang bertubi-tubi? Aku taat padamu, tapi kenapa hidup ini penuh dengan derita? Mengapa kehidupan yang kuimpikan hanya sebatas angin lewat?"

Meskipun kau tau, tidak ada gunanya aku marah pada tuhan...
Yang ada hanya dosa dan segunung tambahan penderitaan..

Aku tahu, bahwa sesuatu tidak ada yang mudah...
Bahwa sesuatu yang diinginkan tidak selalu tercapai...
Namun aku ingin sekali menyudahi penderitaan ini...
Aku ingin impianku terwujud...

Aku ingin ketika aku membuka mata, kulihat impianku dapat kugampai dalam hitungan detik...
Bukan hanya penderitaan ini..

Selasa, 24 November 2015

Resensi Novel Positif! Nada Untuk Asa


Judul: Positif! Nada untuk Asa
Penulis: Ita Sembiring
Penerbit: Komsos KAJ
Terbit: 2014
Halaman: 195 halaman

Art Novel ini bercerita tentang seorang ibu dan anak bungsunya, perempuan, terinfeksi virus HIV. Ibu bernama Nada ini memiliki tiga anak. Dan, anak satu-satunya yang perempuan itu bernama Asa. Anak perempuan itu pula yang terinfeksi virus HIV, “warisan” dari ayahnya, Bobby. Maka, di judul novel diberi judul “Positif! Nada untuk Asa”.
Penulis art novel ini, Ita Sembiring, memulainya dengan sangat indah. Istilahnya langsung tancap gas. Yaitu, mengawali novel ini dengan kisah kematian sang suami. Setelah pemakaman, barulah diketahui kalau suaminya meninggal karena terinfeksi virus HIV. Setelah itu, cerita langsung bermain di puncak. Artinya, perasaan pembaca mulai diaduk-aduk oleh penulis dalam wilayah garapan ini: sang janda yang akhirnya tau bahwa ia mendapat warisan penyakit dan puteri bungsunnya.
Dalam kisah selanjutnya penulis mengeksplorasi secara lengkap bagaimana kondisi Nada yang harus menerima kenyataan bahwa orangtuanya tak bisa menerima dia dalam keluarga karena ia mengidap virus “memalukan” itu. Tetangga-tetangga pun lain mencibir dan menjaga jarak. Ayahnya yang adalah seorang terpandang dan pandai pun menjauh. Tinggalah Nada seorang diri menanggung derita yang tiada bertara ini.
Saya akhirnya memahami bahwa cara pandang ini tepat. Karena, tujuan penulis adalah bukan soal siapa yang meninggal (dalam hal ini suami) karena virus HIV. Tapi, orientasinya adalah apa yang dialami oleh orang-orang yang masih hidup.
Pergulatan itu, kemudian sedikit mencair, ketika Asa akhirnya menemukan orang yang sanggup mencintai dia dengan menerima keadaannya. Kisah romatis dan cinta dihadirkan sedikit di bagian akhir yang berfungsi sebagai “penenang” setelah perasaan pembaca dijumpalitkan sejak awal novel. Ah, saya memang harus mengatakan bahwa Ita sebagai penulis sangat berhasil memainkan perasaan pemacanya.
Hanya saja, dan juga menjadi lebih baik bila saya tidak hanya memuja-muji, saya melihat celah lain sebagai evaluasi, meski sangat sedikit. Saya menemukan sebauah seting cerita dan komunikasi yang mengambil gaya sinetron Indonesia di bagian petermuan Asa dengan Wisnu di warung dekat kantor (halaman 121-128). Komunikasi mereka saat memesan makanan sama persis seperti seintron FTV yang biasanya ditayangkan di salah satu stasiun TV swasta.
Mengapa saya mengatakan bahwa ini kurang? Karena di bagian akhir novel, Ita mengkritik televisi yang selama ini menayangkan sinetron-sinetron yang sangat minim nilai edukatifnya. Ita menyebut bahwa di situ para produser dan sutradara hanya mengejar komersil dan tayang. Nah, ini akan menjadi kontra produktif ketika model yang dikritik ternyata tetap dipakai juga.
Lebih dari itu semua, saya harus katakan bahwa saya sungguh bersyukur karena bisa membaca novel ini. Novel ini tidak pertama-tama bercerita tentang pengaruh virus HIV tetapi bagaimana kita mengatasi stigma yang biasanya diberikan masyarakat sekitar.

Pesan Moral : Jadi pesan moral dari novel ini adalah di dalam kehidupan kita pasti mempunyai cobaan hidup,di dalam cobaan hidup ini kita tidak boleh putus asa dalam semua cobaan hidup ini kita harus berusaha untuk mencari jalan keluar agar masalah itu terselesaikan,seperti yang di gambarkan oleh Asa dia berusaha keras untuk melawan penyakit yang ada pada dirinya dengan tidak di mengeluh dalam cobaan hidupnya

Senin, 19 Oktober 2015

Hubungan Ilmu Budaya Dasar dengan Psikologi

Assalamualaikum Wr.Wb ,

Di sini saya akan menerangkan hubungan ilmu budaya dasar dengan psikologi ,sebelum saya menerangkannya terlebih dahulu saya akan menjelaskan pengertian tentang ilmu budaya dasar dan psikologi`.

Pengertian Ilmu Budaya Dasar


Secara sederhana IBD adalah pengetahuan yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang diekembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Istilah IBD dikembangkan petama kali di Indonesia sebagai pengganti istilah basic humanitiesm yang berasal dari istilah bahasa Inggris “the Humanities”. Adapun istilah humanities itu sendiri berasal dari bahasa latin humnus yang astinya manusia, berbudaya dan halus. Dengan mempelajari the humanities diandaikan seseorang akan bisa menjadi lebih manusiawi, lebih berbudaya dan lebih halus. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa the humanities berkaitan dengan nilai-nilai manusia sebagai homo humanus atau manusia berbudaya. Agar manusia menjadi humanus, mereka harus mempelajari ilmu yaitu the humanities disamping tidak meninggalkan tanggungjawabnya yang lain sebagai manusia itu sendiri. Untuk mengetahui bahwa ilmu budaya dasar termasuk kelompok pengetahuan budaya lebih dahulu perlu diketahui pengelompokan ilmu pengetahuan. Prof Dr.Harsya Bactiar mengemukakan bahwa ilmu dan pengetahuan dikelompokkan dalam tiga kelompok besar yaitu :

1.       Ilmu-ilmu Alamiah ( natural scince )
Ilmu-ilmu alamiah bertujuan mengetahui keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam alam semesta. Untuk mengkaji hal ini digunakan metode ilmiah. Caranya ialah dengan menentukan hukum yang berlaku mengenai keteraturan-keteraturan itu, lalu dibuat analisis untuk menentukan suatu kualitas. Hasil analisis ini kemudian digeneralisasikan. Atas dasar ini lalu dibuat prediksi. Hasil penelitian 100 5 benar dan 100 5 salah
2.       Ilmu-ilmu sosial ( social scince )
ilmu-ilmu sosial bertujuan untuk mengkaji keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam hubungan antara manusia. Untuk mengkaji hal ini digunakan metode ilmiah sebagai pinjaman dari ilmu-ilmu alamiah. Tapi hasil penelitiannya tidak 100 5 benar, hanya mendekati kebenaran. Sebabnya ialah keteraturan dalam hubungan antara manusia initidak dapat berubah dari saat ke saat.

3.       Pengetahuan budaya ( the humanities )
bertujuan untuk memahami dan mencari arti kenyataan-kenyataan yang bersifat manusiawi. Untuk mengkaji hal ini digunakan metode pengungkapan peristiwa-peristiwa dan kenyataankenyataan yang bersifat unik, kemudian diberi arti.
Pengetahuan budaya (the humanities) dibatasi sebagai pengetahuan yang mencakup keahlian (disilpin) seni dan filsafat. Keahlian inipun dapat dibagi-bagi lagi ke dalam berbagai hiding keahlian lain, seperti seni tari, seni rupa, seni musik,dll. Sedangkan ilmu budaya dasar (Basic Humanities) adalah usaha yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Dengan perkataan lain IBD menggunakan pengertian-pengertian yang berasal dari berbagai bidang pengetahuan budaya untuk mengembangkan wawasan pemikiran serta kepekaan mahasiswa dalam mengkaji masalah masalah manusia dan kebudayaan. Ilmu budaya daar berbeda dengan pengetahuan budaya. Ilmu budaya dasar dalam bahasa Ingngris disebut basic humanities. Pengetahuan budaya dalam bahas inggris disebut dengan istilah the humanities. Pengetahuan budaya mengkaji masalah nilai-nilai manusia sebagai mahluk berbudaya (homo humanus). Sedangkan ilmu budaya dasar bukan ilmu tentang budaya, melainkan mengenai pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan budaya.



Pengertian Psikologi

Psikologi (dari bahasa Yunani Kuno: psyche = jiwa dan logos = kata) dalam arti bebas psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa/mental. Psikologi tidak mempelajari jiwa/mental itu secara langsung karena sifatnya yang abstrak, tetapi psikologi membatasi pada manifestasi dan ekspresi dari jiwa/mental tersebut yakni berupa tingkah laku dan proses atau kegiatannya, sehingga Psikologi dapat didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku dan proses mental
Sejarah Psikologi
Psikologi adalah ilmu yang tergolong muda (sekitar akhir 1800an.) Tetapi, manusia di sepanjang sejarah telah memperhatikan masalah psikologi. Seperti filsuf yunani terutama Plato dan Aristoteles. Setelah itu St. Augustine (354-430) dianggap tokoh besar dalam psikologi modern karena perhatiannya pada intropeksi dan keingintahuannya tentang fenomena psikologi. Descartes (1596-1650) mengajukan teori bahwa hewan adalah mesin yang dapat dipelajari sebagaimana mesin lainnya.
Ia juga memperkenalkan konsep kerja refleks. Banyak ahli filsafat terkenal lain dalam abad tujuh belas dan delapan belas—Leibnits, Hobbes, Locke, Kant, dan Hume—memberikan sumbangan dalam bidang psikologi. Pada waktu itu psikologi masih berbentuk wacana belum menjadi ilmu pengetahuan.


Hubungan Ilmu Budaya Dasar dengan Psikologi
Pada awal perkembangannya, ilmu psikologi tidak menaruh perhatian terhadap budaya. Baru sesudah tahun 50-an budaya memperoleh perhatian. Namun baru pada tahun 70-an ke atas budaya benar-benar memperoleh perhatian. Pada saat ini diyakini bahwa budaya memainkan peranan penting dalam aspek psikologis manusia. Oleh karena itu pengembangan ilmu psikologi yang mengabaikan faktor budaya dipertanyakan kebermaknaannya. Triandis (2002) misalnya, menegaskan bahwa psikologi sosial hanya dapat bermakna apabila dilakukan lintas budaya. Hal tersebut juga berlaku bagi cabang-cabang ilmu psikologi lainnya.
Manusia sebagai anggota masyarakat akan terikat oleh kebudayaan yang berbeda-beda satu sama lainnya. kebudayaan adalah segala sesuatu yang dipelajari dan dialami bersama secara sosial, oleh para anggota suatu masyarakat. Psikologi membahas tentang jiwa dan perilaku manusia. Jadi, ilmu budaya dasar yang mempelajari tentang kebudayaan sangat berhubungan dengan psikologi.

Bagaimanakah hubungan antara psikologi dan budaya?
Secara sederhana Triandis (1994) membuat kerangka sederhana bagaimana hubungan antara budaya dan perilaku:
Ekologi – budaya – sosialisasi – kepribadian – perilaku
Sementara itu Berry, Segall, Dasen, & Poortinga (1999) mengembangkan sebuah kerangka untuk memahami bagaimana sebuah perilaku dan keadaan psikologis terbentuk dalam keadaan yang berbeda-beda antar budaya. Kondisi ekologi yang terdiri dari lingkungan fisik, kondisi geografis, iklim, serta flora dan fauna, bersama-sama dengan kondisi lingkungan iasr-politi,  adaptasi biologis dan adaptasi iasral merupakan dasar bagi terbentuknya perilaku dan karakter psikologis. Ketiga hal tersebut kemudian akan melahirkan pengaruh ekologi, genetika, transmisi budaya dan pembelajaran budaya, yang bersama-sama akan melahirkan suatu perilaku dan karakter psikologis tertentu.
Ratusan definisi budaya yang ada tidak biasa dianggap yang satu lebih benar daripada yang lainnya. Masing-masing definisi memiliki kekuatannya masing-masing. Oleh karena itu penggunaan definisi budaya semestinya dilihat dari tingkat kegunaannya bagi tujuan yang dikehendaki. Triandis (1994) mencontohkan dengan definisi budaya yang digunakan B.F. Skinner, seorang behavioris, yakni ‘budaya adalah seperangkat aturan penguatan (a set of schedules of reinforcement)’. Definisi tersebut bernilai optimal bagi pendekatan yang dilakukan Skinner.
Contoh fenomena hubungan Ilmu Budaya Dasar dengan Psikologi di kehidupan sehari-hari
 Inilah fenomena yang terjadi di masyarakat kita. Tawuran antar pelajar maupun tawuran antar remaja semakin menjadi semenjak terciptanya geng-geng. Mereka itu sudah tidak merasa bahwa perbuatan itu sangat tidak terpuji dan bisa mengganggu ketenangan masyarakat. Fenomena tawuran ini juga penyebabnya masalah sering sekali sangat sepele. Namun bagi para pelajar yang masih labil tingkat emosinya bagi mereka masalah yang sepele itu merupakan tantangan bagi mereka.
Salah satu penyebab dari permasalahanya yaitu tingkat kestressan siswa didalam diri anak itu sendiri dan pemahaman agama yang masih rendah. Pemicu tawuran itu bermacam-macam ada yang karena disebabkan dendam dengan rasa  kesetiakawanan yang tinggi para siswa itu akan membalas perlakuan yang disebabkan oleh siswa tersebut. Dan secara tidak langsung perilaku tersebut mencemarkan nama baik sekolah.
Contoh lain di kehidupan sehari-hari adalah berkomunikasi dengan antar teman, keluarga daan masyarakat sekitar. Mungkin kita dapat mengetahui bagaimana kita dapat memahami sifat dan karakteristik setiap orang, lalu memahami norma- norma dalam masyarakat agar tercipta keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat. Inti dari ilmu budaya dasar dalah kehidupan bermasyarakat, yaitu sejauh apa ilmu budaya dasar dapat mempengaruhi sikap dan tata cara kita dalam bermasyarakat. Bila kita sudah mempunyai dasar yang kuat, dapat diyakini bahwa kita akan dapat membawa diri dalam masyarakat.